Jawaban Soal Bonus

•June 11, 2009 • Leave a Comment
  1. argumentum ad hominem (abussive), ignoratio elenchi, the runaway train, concealed quantification, abussive analogy, one-sided asessment, apriorism, petitio principii, secundum quid.
  2. Formal Fallacy – undistributed middle, one-sided asessment, argumentum ad hominem (abussive), abussive analogy, petitio principii.
  3. Analogical fallacy dan Circulus of probando
  4. Mengetahui (know) adalah keadaan di mana kita sadar akan sesuatu. Apa yang kita tahu (knowledge) merupakan informasi yang dapat kita olah untuk dapat kita kembangkan di masa yang akan datang. Jadi mengetahui adalah sebuah state di mana kita benar-benar sadar akan sesuatu sebelum mengambil tindakan selanjutnya.
  5. Nyata dalam bahasa inggris adalah absolute, actual, definite, factual, obvious, real dan masih banyak lagi. Kata-kata ini mengacu pada keadaan yang benar adanya (exist). Baik kita sadari ataupun tidak.
  6. Pada dasarnya, dunia terbentuk oleh hal yang berbeda-beda. Misalnya manusia. Manusia adalah manusia. Sesama manusia adalah sama. Namun, sesama manusia tidak ada yang sama persis.  Jika ditelusuri lebih dalam, seluruh dunia ini terbuat dari sebuah bahan (matter) yang dulunya dipercaya sebagai atom. Para ilmuwan hingga saat ini masih menyelidiki apa materi utama yang menjadi dasar semuanya. Namun, pada tingkat atom itu sendiri, tak dapat dipungkiri, dunia, walaupun berisi hal yang berbeda, tetap tersusun oleh sebuah dasar yang sama.
  7. Kita harus bersikap terbuka pada setiap pendapat orang lain dan mengujinya. Jika memang terbukti benar, kita juga tak bisa memungkirinya.

Soal Bonus

•June 11, 2009 • Leave a Comment
  1. Ada seorang wanita yang belum menikah yang memiliki konsep kesetiaan “Saya tidak mau makan berdua dengan pria lain selain pacar saya.”
    Saya berpendapat bahwa wanita ini berpikiran kotor, karena saya menganggap dia selalu menilai masalah seksual. Kenapa membedakan antara teman cowok dan cewek. Ada fallacy dari pemikiran saya. Fallacy apa?
  2. Sang penuduh berpendapat bahwa “beberapa orang penganut seks bebas menganggap pernikahan hanya sekedar legalitas untuk melakukan persetubuhan”. Apa fallacy sang penuduh?
  3. Komik-komik buatan Indonesia saat ini dapat dikatakan sebagai tiruan manga. Manga adalah komik Jepang. Kalau begitu komik Indonesia itu yang seperti apa?”
    Lalu ada bantahan seperti ini:
    “Kalau pemain yang mewakili Indonesia menjuarai kejuaraan bulu tangkis, apakah pemain tersebut adalah pemain Inggris atau pemain Indonesia? (permainan bulu tangkis secara resmi diciptakan di inggris) jadi sama halnya dengan komik Indonesia…dst”.
    Apa fallacy yang digunakan pada jawaban atas pernyataan di atas?
  4. Jelaskan tahu (know) itu apa!
  5. Jelaskan nyata itu apa!
  6. Berikan contoh reduksionisme yang pada awalnya terlihat sama, setelah diteliti ternyata berbeda, namun pada saat tertentu ternyata sama.
    Contoh: Komputer apple dengan windows yang model lama. Cara kerja mesinnya berbeda jauh dan kembali sama setelah diteliti hingga tahap elektron.
  7. Salah satu fallacy (argumentum ad lapidem) tejadi karena keras kepala. Bagaimana caranya agar kita tidak kepala batu?

Kuliah XIII

•June 11, 2009 • Leave a Comment

Model adalah perwakilan. Model bertujuan untuk menjelaskan atau memprediksi sesuatu. Model juga biasanya dalam simulasi. Simulasi maksudnya menganalisa sesuatu (dalam kasus ini model) dalam kurun waktu tertentu.

Ada beberapa pembagian tipe model. Contohnya physical dan symbolic. Physical berarti terlihat serupa dan symbolic belum tentu terlihat. Physical terbagi menjadi iconic yaitu yang terlihat sama secara bentuk dan analog yaitu tang memiliki sifat dan tingkah laku sama. Symbolic terbagi juga menjadi verbal (bahasa) dan mathematical (perhitungan).

Contoh pembagian yang lain adalah analytic dan numeric, deterministik dan probabilistik, statik dan dinamik.

Kuliah XI & XII

•June 11, 2009 • Leave a Comment
Informal fallacies selain linguistic adalah relevance. Seperti artinya, fallacy-fallacy pada kategori ini disebabkan oleh tidak relevannya antara premis dan kesimpulan entah pada pihak premis ataupun kesimpulan itu sendiri.
Kategori ini dibagi lagi menjadi 3 macam yaitu ommision, presumption, dan intrusion. Masing-masing dengan penyebab yang berbeda-beda.
Kategori omission terdiri dari:
bogus dilemma
concealed quantification
damning the alternative
definitional retreat
extensional pruning
argumentum ad ignoratiam
argumentum ad lapidem
argumentum ad nauseam
one-sided assessment
refitung the example
shifting ground
shifting the burden of proof
special pleading
the straw man
the exception thet proves the rule
trivial objections
unaccepted enthymemes
unobtainable perfection
Kategori intrusion terdiri dari
blinding with science.
argumentum ad crumenam
emotional appeals
every schoolboy knows
the genetic fallacy
argumentum ad hominem (abusive)
argumentum ad hominem (circumstancial)
ignoratio elenchi
irrelevant humour
argumentum ad lazarum
loaded words
argumentum ad misericordiam
poisoning the well
the red herring
the runaway train
the slippery slope
tu quoque
argumentum ad verecundiam
wishful thinking
Kategori presumption terdiri dari:
abussive analogy
accident
analogical fallacy
argumentum ad antiquam
apriorism
bifurcation
circulus of probando
complex questions (plurium integrrogationum)
cum hoc ergo propter hoc
dicto simpliciter
ex-post-facto statistics
the gambler’s fallacy
argumentum ad novitam
petitio principi
post hoc ergo propter hoc
secundum quid
argumentum ad temperantiam
Pembagian ini hanyalah salah satu contoh dalam pengkategorian fallacies of reasoning. Jadi, masih banyak lagi tipe-tipe fallacies yang lainnya. Salah satu contohnya dapat anda lihat di sini.

Informal fallacies selain linguistic adalah relevance. Seperti artinya, fallacy-fallacy pada kategori ini disebabkan oleh tidak relevannya antara premis dan kesimpulan entah pada pihak premis ataupun kesimpulan itu sendiri.

Kategori ini dibagi lagi menjadi 3 macam yaitu ommision, presumption, dan intrusion. Masing-masing disebabkan oleh penyebab yang berbeda-beda.

Kategori omission terdiri dari:
bogus dilemma
concealed quantification
damning the alternatives
definitional retreat
extensional pruning
argumentum ad ignoratiam
argumentum ad lapidem
argumentum ad nauseam
one-sided assessment
refuting the example
shifting ground
shifting the burden of proof
special pleading
the straw man
the exception thet proves the rule
trivial objections
unaccepted enthymemes
unobtainable perfection

Kategori intrusion terdiri dari:
blinding with science
argumentum ad crumenam
emotional appeals
every schoolboy knows
the genetic fallacy
argumentum ad hominem (abusive)
argumentum ad hominem (circumstancial)
ignoratio elenchi
irrelevant humour
argumentum ad lazarum
loaded words
argumentum ad misericordiam
poisoning the well
the red herring
the runaway train
the slippery slope
tu quoque
argumentum ad verecundiam
wishful thinking

Kategori presumption terdiri dari: abussive analogy
accident
analogical fallacy
argumentum ad antiquam
apriorism
bifurcation
circulus of probando
complex questions (plurium integrrogationum)
cum hoc ergo propter hoc
dicto simpliciter
ex-post-facto statistics
the gambler’s fallacy
argumentum ad novitam
petitio principi
post hoc ergo propter hoc
secundum quid
argumentum ad temperantiam

Pembagian ini hanyalah salah satu contoh dalam pengkategorian fallacies of reasoning. Jadi, masih banyak lagi tipe-tipe fallacies yang lainnya. Salah satu contohnya dapat anda lihat di sini.

Kuliah X

•June 1, 2009 • Leave a Comment

Ada kalanya pembuktian ataupun pernyataan (ilmiah maupun non-ilmiah) yang kita berikan memiliki kesalahan. Terutama dalam hal penalaran logika. Kesalahan ini disebut fallacies of reasoning.

Secara garis besar terdapat 2 macam fallacies yaitu formal dan informal. Dalam formal fallacies kesalahan yang terjadi adalah pada penalaran itu sendiri di mana ada pembuktian atau tahapan yang terlewatkan. Dalam informal fallacies, kesalahan terjadi akibat terlibatnya unsur informal seperti bahasa, kepercayaan dsb sehingga kesimpulan yang diambil kurang tepat.

Contoh formal fallacies adalah kesimpulan yang disimpulkan dari akibat, bukan sebab, kesimpulan yang bertentangan dengan premisnya, premis-premis yang saling bertentangan yang berujung pada kesimpulan yang salah, dsb.

Informal fallacies terdiri dari 4 jenis yaitu linguistic, relevance-ommision, relevance-intrusion, dan relevance-presumption. Masing-masing melibatkan hal yang berbeda.

Linguistic fallacies adalah kesalahan dalam hal vokal atau bahasa. Hal ini dapat mengakibatkan kesalahan pemahaman. Contohnya adalah accent, amphiboly, composition, division dsb

Kuliah IX

•April 27, 2009 • Leave a Comment

Makhluk hidup memiliki banyak keistimewaan. Tidak heran, muncul berbagai teori yang diharapkan menjelaskan tentang makhluk hidup. Bahkan, ada pula teori yang memanfaatkan keistimewaannya itu seperti Fuzzy Logic dan Genetic Algorithm untuk memecahkan masalah sehari-hari.

Perubahan yang terjadi dalam diri makhluk hidup terjadi karena 2 hal, yaitu mutasi dan perkawinan. Mutasi cenderung terjadi karena sinar ultraviolet dari matahari yang menembak bagian dari rantai DNA makhluk hidup. Perkawinan terjadi untuk menggabungkan 2 sifat gen untuk menghasilkan gen yang baru.

Lalu kenapa makhluk hidup perlu melakukan perkawinan? Bukan untuk kesenangan semata tentunya. Perkawinan dilakukan untuk alasan pebaikan gen. Melalui perkawinan, makhluk hidup menghasilkan keturunan yang diharapkan lebih baik daripada induknya. Selain itu, proses perubahan melalui sinar matahari untuk mengubah gen dirasa terlalu lama dan sulit terjadi. Hal ini pula yang menjadi alasan makhluk hidup melakukan perkawinan.

Makhluk hidup memiliki telomer di ujung rantai DNA di mana telomer ini tidak dapat membelah sempurna sehingga ada waktu di mana mereka akan habis. Lalu, apa pengaruhnya? Di saat telomer habis, saat itulah kematian makhluk hidup tersebut. Lalu kenapa makhluk hidup menghasilkan telomer? Telomer ada agar terjadi pergantian generasi untuk memberi kesempatan pada generasi berikutnya sehingga tidak terjadi persaingan dengan generasi sebelumnya.

Jika telomer ini nantinya dapat dimanipulasi oleh manusia, mungkin akan ada masanya di mana manusia tidak akan mati. Baik sengaja walaupun tidak disengaja. Contohnya dengan memanfaatkan teknologi nano. Namun, muncul kemungkinan lain di mana manusia akan bosan hidup terus menerus dan mencari cara untuk mati. Bayangkan saja akan ada prosedur khusus untuk mati, melalui perusahaan jasa yang menyediakan kematian misalnya. Akankah masa depan kita seperti itu?

Kuliah VIII

•April 20, 2009 • Leave a Comment

Pada awalnya, matematika diawali oleh ordination atau pengurutan. Hal ini kemudian berkembang menjadi cardination atau penyocokkan. Dari penyocokkan ini ditemukan benda perlambangan yang dinamakan calculi dan kemudian berkembang menjadi stylus. Pada akhirnya, ditemukanlah cara perlambangan yang lebih praktis yang dikenal dengan istilah numeric symbolization dan digunakan hingga saat ini. Contohnya adalah bilangan-bilangan berbasis 2, 10, dan lain sebagainya.

Perhitungan semakin berkembang dengan ditemukannnya sifat dan jenis-jenis dari bilangan seperti bilangan bulat dan real, bilangan rasional dan irasional, dan lain sebagainya. Tokoh yang dikenal adalah Ramanujan yaitu seorang jenius dari India yang mengerti dengan jelas dan detil tentang bilangan bulat.

Namun, seiring dengan perkambangan ini muncul pula paradox seperti Zeno paradox, tortoise and hare paradox (Paradox Matematika), serta omniscience paradox, Bodhisatva paradox, Devil’s offer, Pascal’s wage (Paradox Statistik).

Kuliah VII

•April 12, 2009 • Leave a Comment

Struktur pengetahuan ilmiah bisa dikelompokkan menjadi:
1.    Hipotesa yaitu dugaan awal yang belum dibuktikan kebenarannya.
2.    Teori yaitu sesuatu yang belum pasti kebenarannya namun sudah terbentuk suatu pemahaman melalui pattern yang ada.
3.    Hukum yaitu hipotesa yang telah terbukti dan diakui kebenarannya oleh banyak orang.
4.    Aksioma atau postulat yaitu sesuatu yang dianggap sudah benar tanpa perlu dibuktikan lagi.
5.    Prinsip yaitu suatu kebenaran yang dijadikan pegangan manusia.
6.    Asumsi yaitu sesuatu yang dianggap sudah benar untuk deduksi atau induksi. Asumsi harus menyertakan fakta empiris.

Kebenaran ilmiah tidak boleh abadi. Dengan artian bahwa suatu kebenaran ilmiah harus bisa menerima sanggahan dan bisa diubah jika ditemukan sesuatu yang lebih mendasar atau lebih benar. Sesuatu hal ilmiah harus melibatkan induksi dan deduksi.

Ada 3 hal yang menjadi sarana berpikir ilmiah. Yang pertama adalah bahasa yaitu persetujuan manusia dalam komunikasi. Bahasa berperan dalam penyampaian pemikiran ilmiah. Hal kedua adalah matematika sebagai sarana deduksi dan yang terakhir adalah probabilitas sebagai sarana induksi. Sarana berpikir ilmiah memerlukan model masing-masing di mana model adalah perlambangan atau perwakilan sesuatu hal.

Kuliah VI

•April 12, 2009 • Leave a Comment

Apa itu metode ilmiah? Metode berarti cara mengetahui suatu hal melalui langkah-langkah yang sistematis. Metode ilmiah berarti cara memperoleh pengetahuan ilmiah (ilmu) melalui proses pembuktian secara sistematis. Metodologi adalah pengkajian mengenai atruran-aturan dalam metode di mana metodologi ilmiah merupakan pengkajian dari aturan-aturan yang terdapat dari metode ilmiah.

Metode ilmiah tercipta karena tidak semua pengetahuan adalah ilmu. Jadi metode ilmiah bertugas untuk memfilter pengetahuan, apakah pengetahuan tersebut merupakan ilmu atau bukan. Pengetahuan ilmiah haruslah rasional dan teruji.

Pada awalnya, kebudayaan manusia berada pada tahap mistis di mana manusia mulai mencari pattern yang sesuai pada fenomena alam. Pada tahap kedua, yaitu ontologis, manusia mulai mencoba untuk menjelaskan fenomena-fenomena tersebut. Pada tahap terakhir, yakni fungsional, manusia mulai memanfaatkan fenomena tersebut untuk keuntungannnya. Pada setiap tahapan tersebut metode ilmiah dilakukan sebagai acuan.

Metode ilmiah menggabungkan cara penalaran indauksi dan deduksi. Pembentukan teori dilakukan jika ada data (pattern) dan penjelasan. Teori tersebut syaratnya adalah konsisten pada teori-teori yang ada sebelumnya dan cocok dengan fakta-fakta empiris. Sebelum terbukti, dugaan awal ini biasa disebut dengan hipotesa.
Langkah-langkah metode ilmiah adalah:
1.    Perumusan masalah (pembatasan masalah).
2.    Penyusunan kerangka berpikir dalam pengajuan hipotesis di mana di dalamnya terdapat penjelasan teori-teori pendukung.
3.    Perumusan hipotesis.
4.    Pengujian hipotesis.
5.    Penarikan kesimpulan.

Kuliah V

•March 26, 2009 • Leave a Comment

Ada 3 aspek penting dalam Filsafat Ilmu Pengetahuan. Aspek-aspek ini menjadi dasar dari segala pembahasan dan penyelidikan yang kita lakukan.

Hal yang pertama adalah ontologi. Ontologi ini berkenaan tentang hakikat yang kita kaji dalam ilmu pengetahuan. Apa yang menjadi batasan persoalan yang kita kaji? Apakah cukup sampai di sana saja? Kita harus membahas dalam cakupan yang jelas dagar tidak terjadi greedy reductionism.

Hal kedua adalah epistemologi. Epistemologi berkenaan tentang cara mendapat pengetahuan. Melalui deduksi, induksi, ataupun cara lain. Namun, cara-cara tersebut harus tetap memegang prinsip ilmu pengetahuan yang benar.

Hal ketiga adalah aksiologi. Aksiologi berkenaan tentang nilai guna suatu ilmu. Apakah ilmu tersebut berguna bagi masyarakat luas? Ataukah saat ini masih belum terlihat gunanya? Pertanyaan-pertanyaan ini yang menjadi cakupan aksiologi.